Benarkah Kopi Luwak jadi Biji Kopi Paling Mahal di Dunia?

Benarkah Kopi Luwak jadi Biji Kopi Paling Mahal di Dunia?

Temen Ngopi pasti sudah sering mendengar kabar bahwa kopi luwak merupakan kopi termahal di dunia. Dulu, luwak merupakan hewan liar yang cukup langka sehingga harga kopi luwak pun menjadi mahal. Terlebih, proses pembuatan kopi luwak juga tidak bisa dipaksakan.

Jika menganut informasi yang dilansir dari situs National Geographic, Dean & Deluca sebagai salah satu importir kopi terkenal di dunia mengatakan bahwa 50 gram biji kopi luwak asli dihargai sebesar 70 dolar atau hampir setara 1 jutaan rupiah. Bahkan ada salah satu kedai kopi di Amerika Serikat yang hanya menjual biji luwak jika ada yang memesan jauh-jauh hari.

Dikenalnya kopi luwak di Indonesia ini ada kaitannya dengan Negara yang pernah menjajah kita selama ratusan thun, yaitu Belanda.

Sejarah kopi di Indonesia.

Kopi luwak memang baru mulai terkenal pada tahun 2000-an, dengan harganya yang sangat tinggi dan akhirnya menjadi kopi termahal di dunia. Namun, sebenarnya kopi luwak memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada era kolonial Belanda dulu, sangat jarang ditemukan perkebunan kopi di Indonesia. Meski begitu, Belanda melihat iklim dan kondisi Indonesia yang sangat potensial untuk dijadikan perkebunan rempah-rempah. Akhirnya, pada abad ke-16, Belanda menyelundupkan biji kopi dari tanah Arab.

Di Yaman, Belanda berhasil menyelundupkan beberapa biji kopi terbaik. Kemudian Belanda menyebarkannya di Sumatera dan Jawa, yang saat itu termasuk area jajahan mereka. Melalui sistem tanam paksa, perkebunan kopi di Indonesia berkembang begitu pesat. Karena setiap daerah di Indonesia mempunyai iklim dan kelembapan yang berbeda, maka muncul biji kopi yang berbeda-beda pula.

Asal usul munculnya kopi luwak di Indonesia

Belanda sangat ketat dalam menjalankan sistem tanam paksa. Di setiap perkebunan, tidak boleh ada satu pun pribumi di Indonesia yang mengambil atau bahkan mencicipi kopi. Ini dikarenakan Belanda ingin mengambil semua hak biji kopinya. Nah, karena keterbatasan itulah, masyarakat pribumi Indonesia mencari akal bagaimana bisa menikmati kopi yang mereka tanam sendiri.

Pada suatu waktu, ada petani kopi yang beternak musang/luwak dan mengetahui bahwa ternyata luwak tersebut juga makan biji kopi. Tidak hanya itu, sewaktu membersihkan kotoran luwak, petani tersebut mengetahui bahwa luwak tidak bisa mencerna biji kopi. Dari situ, para petani kopi di Indonesia menggunakan biji kopi dari kotoran luwak untuk diolah.

Dengan aroma dan rasanya yang berbeda dari biji kopi biasa, biji kopi luwak kemudian menjadi salah satu kopi paling terkenal di zaman Belanda. Terkenalnya biji kopi luwak kemudian tercium Belanda. Mereka pun mencoba meneliti kenapa luwak bisa suka dengan biji kopi.

Hasil penelitian dari Belanda sungguh mengejutkan. Luwak ternyata tidak sembarangan dalam makan biji kopi karena hewan tersebut akan memilih biji kopi yang paling bagus. Selain itu, kotoran biji kopi yang keluar dari tubuh luwak juga telah mengalami fermentasi sehingga rasa dan kualitasnya berbeda.

Dari situ, Belanda memulai memproses biji kopi luwak menjadi barang yang eksklusif, ditambah lagi karena peternak luwak di Indonesia juga sangat sedikit. Pada akhirnya, harga biji kopi luwak sangat melambung.

Lambat laun, kopi luwak pun mulai menyebar ke penjuru Indonesia. Berbagai daerah mulai memiliki produksi kopi luwak sendiri. Salah satunya adalah Tana Toraja, salah satu provinsi di Sulawesi Selatan. Karena kualitas kopinya yang bagus, Kapal Api bahkan sampai terinspirasi untuk mengawinkan kopi Tana Toraja dengan luwak sehingga terciptalah Kapal Api Luwak Blend Coffee, kopi luwak dari kopi terbaik Indonesia dengan aroma dan rasa yang jelas lebih enak.