Empat Sendok Gula Sehari Sudah Cukup

Apakah anda menyadari bahwa ketika anda mengonsumsi kue kering manis bahwa kandungan gula didalamnya ada kira-kira lima sendok gula? Dan apakah anda sadari bahwa ketika anda mengonsumsi kopi, setidaknya anda menambah tiga sendok gula di dalam kopi anda ?

Gula sudah menjadi salah satu bahan pokok yang selalu ada di setiap rumah tangga. Gula merupakan makanan yang tergolong sebagai karbohidrat sederhana. Makanan golongan karbohidrat sederhana akan secara cepat dicerna oleh tubuh yang artinya makanan jenis ini bisa memberikan efek menambah energi secara cepat untuk tubuh namun energi tersebut akan cepat hilang juga. Menurut dr Dewi Ema Anindia, hal inilah yang dapat menyebabkan kita seakan-akan “ketagihan” untuk mengonsumsi makanan golongan ini secara terus menerus. Itulah yang menyebabkan munculnya istilah “sugar craving” atau keinginan untuk terus menerus mengonsumsi gula setelah kita mengonsumsi gula dalam jumlah yang banyak.

Perlu Anda ketahui juga bahwa makanan golongan karbohidrat sederhana seperti gula hanya memiliki fungsi sebagai sumber energi untuk tubuh dan tidak memiliki fungsi untuk menambah nutrisi, oleh karena itulah maka gula seringkali disebut sebagai makanan yang mengandung kalori kosong. Apabila kita mengonsumsi makanan yang mengandung kalori kosong dalam jangka waktu yang lama, maka hal ini bisa menyebabkan munculnya obesitas. Obesitas merupakan faktor resiko utama munculnya penyakit diabetes, penyakit jantung koroner, stroke bahkan kerusakan gigi dan mulut.

Pada dasarnya gula tidak sepenuhnya buruk untuk tubuh, apabila kita mengonsumsi dengan batas yang aman. Rekomendasi yang ditetapkan oleh WHO (World Health Organization) dan dari Keputusan Kementrian Kesehatan Indonesia, dalam satu hari, batas maksimum kita mengonsumsi gula tidak melebihi 50 gram atau tidak melebihi 4 sendok makan per orang dalam satu hari.

Kebiasaan hidup sehat dapat dimulai dengan kebiasaan sederhana, yaitu dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang “less sugar“ atau “kurang gula“. Dengan demikian, Anda dapat terhindar dari berbagai gangguan kesehatan yang dapat menurunkan produktivitas dan penampilan Anda.

Artikel oleh dr. Dewi Ema Anindia untuk Kapal Api Less Sugar

Dr. Dewi Ema Anindia merupakan seorang Dokter Umum yang lulus dari Universitas Pelita Harapan sejak tahun 2012. Anak ketiga dari empat bersaudara ini, saat ini praktek sebagai seorang Dokter Umum di sebuah Klinik Penyakit Dalam di daerah Jakarta Selatan. Setelah lulus dari Universitas, dr. Ema banyak berkecimpung di berbagai pekerjaan. Ia pernah bekerja sebagai seorang Asisten Peneliti di Divisi Tropik dan Infeksi di Departement Ilmu Penyakit Dalam RSCM/FKUI. Pekerjaan ini yang membuatnya tertarik dengan Ilmu Immunologi sehingga Ia sempat mengkuti pelatihan tentang Ilmu Imunologi di Rice University, Texas. Ia juga pernah mengajar Ujian Kompetensi Dokter di Bimbingan Belajar Optima. Selain itu, dr. Ema sangat gemar menulis yang membuatnya bekerja sebagai seorang Editor Medis di sebuah website kesehatan bernama www.klikdokter.com. Diluar kesibukannya sebagai dokter, pada tahun 2016 dr. Ema mendirikan sebuah organisasi sosial yang bernama Hope For All Indonesia yang bergerak di bidang kesehatan serta pendidikan. Selain dunia kedokteran, dr. Ema juga berkecimpung di dunia Fashion dimana Ia mendirikan sebuah merek baju bernama Cocotier yang saat ini dijual di sebuah Department Store di Jakarta. Selain mendesign baju, dokter dengan badan semampai ini sangat gemar berolahraga, olahraga yang menjadi kegemarannya adalah Muay Thai.