Sejarah Singkat Penyebaran Kopi di Indonesia

Ada banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk mengenali seseorang, salah satunya dari jenis minuman kesukaannya. Apakah kamu seorang tea person atau coffee person? Berbicara soal minuman favorit, teh dan kopi memang sama-sama memiliki banyak penggemar di dunia. Tiap tahun, di Indonesia ada sekitar 4-5 juta karung kopi atau sekitar 300.000 ton yang habis dikonsumsi.

Dalam hal ini, kita masih berada di belakang Finlandia, yang menjadi negara dengan konsumsi kopi paling banyak karena setiap masing-masing penduduknya akan menghabiskan kopi sebanyak 12 kg per tahun. Luar biasa, ya?

Saat ini, keberadaan kedai kopi dapat sangat mudah ditemukan di lingkungan sekitar kamu. Setiap daerah di Indonesia pun memiliki ciri khas kopinya masing-masing, sebut saja kopi Toraja, kopi Gayo Aceh, Kopi Bali, Kopi Jawa, dan lainnya. Tersebar secara merata di Indonesia, kira-kira bagaimana ya sejarah penyebaran kopi di negara kita ini?

Kopi harus melewati perjalanan panjang untuk bisa masuk ke Indonesia

Menurut sejarah, kopi di Indonesia harus melewati perjalanan panjang terlebih dahulu agar bisa masuk dan tersebar di penjuru nusantara. Dalam beberapa literatur tua dan artikel yang berkaitan dengan kopi, masuknya kopi ke tanah air konon sudah dimulai pada tahun 1696. Penyebaran ini diawali oleh Pemerintah Belkamu yang membawa kopi dari Malabar, sebuah kota di India ,ke Indonesia melalui Pulau Jawa.

Alur seperti ini tertulis rapi di salah satu arsip persatuan dagang milik Pemerintah Hindia Timur Belkamu atau VOC. Tepat pada tahun 1707, pimpinan atau Gubernur Van Hoorn menyebarkan distribusi bibit kopi ke wilayah baru seperti Batavia, Cirebon, kawasan Priangan, dan kawasan pesisir utara Pulau Jawa. Pada tahun 1714-1715, bibit kopi ini pun berhasil di budidayakan dan menjadi tanaman baru di Jawa.

Sembilan tahun kemudian, produksi kopi di Indonesia terus meningkat dan melimpah ruah hingga mendominiasi pasar dunia. Dari hasil itulah akhirnya Indonesia mengekspor kopi dari Jawa ke wilayah Eropa dan mengalahkan ekspor kopi dari Yaman ke Eropa yang sudah ada sebelumnya. Bahkan pada saat itu, Indonesia menjadi salah satu negara budidaya kopi pertama di dunia selain Arab dan Ethiopia. Sejak saat inilah VOC tidak ingin melewatkan kesempatan untuk memonopoli perdagangan kopi dunia, terhitung dari tahun 1725-1780.

Memasuki tahun 1830, ketika Pemerintah Belkamu bangkrut akibat perang Diponegoro, Gubernur Jendral Van Den Bosch mengeluarkan peraturan kultivasi besar-besaran yang bernama sistem tanam paksa. Sistem ini akhirnya berhasil mengembalikan kas pemerintahan Belkamu dan mendulang keuntungan hingga menjadi komoditas ekspor dengan memeras habis para petani lokal. Para petani juga dilarang untuk menikmati hasil dari kebun kopi yang dikerjakan oleh mereka, hingga akhirnya muncul minuman yang bernama Aia Kawa atau minuman hasil rebusan daun kopi untuk mengobati kerinduan dan kenikmatan terhadap kopi.

Belkamu menanam biji kopi Ke kepulauan nusantara

Kopi Arabika merupakan jenis kopi yang pertama kali masuk ke Indonesia, tepatnya pada tahun 1969. Bibit kopi ini awalnya dibawa oleh seorang pasukan Belkamu yang bernama Adrian Van Ommen dari Malabar untuk ditanam di Jakarta, di mana lokasi pemerintahan Belkamu berada pada saat itu.

Tak disangka, budidaya kopi yang dilakukan secara paksa oleh Belkamu mendatangkan keuntungan berlimpah. Pada tahun 1711, biji kopi ini langsung diekspor dari Jawa ke Eropa oleh VOC. Dalam dalam waktu sepuluh tahun, angka ekspor biji kopi meningkat pesat menjadi sekitar 60 ton setiap tahunnya. Belkamu yang menyadari betul potensi pasar dari kopi, terus meningkatkan produksi kopi Arabika ini. Jika pada produksi awal atau sekitar tahun 1830-1834 total produksi mencapai sebesar 26.600 ton per tahun, secara signifikan angka tersebut naik bertahap menjadi 79.600 ton dan puncaknya pada tahun 1880-1884 menjadi 94.400 ton per tahun.

Memasuki pertengahan tahun 1870-an, Pemerintah Belkamu mulai memperluas penanaman biji kopi di beberapa pulau nusantara di luar Jawa yang memiliki tanah subur. Mulai dari Pulau Sumatera, Bali, Sulawesi, dan Timor hampir sebagian besar lahannya dijadikan sebagai perkebunan kopi. Hasil produksi dari pulau-pulau ini sangat berkualitas dan diakui secara mendunia, salah satunya adalah kopi Sidikalang, Mandheling, Lintong, Gayo, Kintamani, Toraja, dan Flores.

Kopi Robusta, kopi yang dikenal dari bencana

Sebagai pecinta kopi, sebagian besar dari kamu tentu sudah mengenal jenis kopi seperti Arabika, Robusta, dan lainnya. Adanya berbagai jenis kopi ini tercipta mulai dari jenis kopi itu sendiri atau dari proses yang dipilih untuk mengolah biji kopi tersebut. Tapi, tahukah kamu kalau jenis Kopi Robusta pada awalnya dikenalkan ke Indonesia karena adanya penyakit karat daun (Hemilera Vastatrix)?

Ya, kopi robusta ini pertama kali diperkenalkan oleh Belkamu ke Indonesia akibat adanya wabah penyakit karat daun yang menyerang perkebunan se-nusantara pada tahun 1876 silam. Serangan ini sangat berdampak buruk bagi perkembangan budidaya kopi dan menyebabkan kerugian besar-besaran. Kejadian ini membuat Belkamu mendatangkan spesies kopi baru yang bernama Liberika (Coffea libereca), yang dikatakan lebih tahan terhadap penyakit karat daun.

Jenis kopi Liberika ini memang digunakan selama beberapa tahun dan berhasil menempati posisi kopi Arabika di perkebunan dataran rendah. Di pasar Eropa, jenis kopi ini pun memiliki harga yang sama dengan jenis kopi Arabika. Tapi ternyata kopi Liberika ini pun mengalami hal yang sama, yakni terserang penyakit karat daun. Tidak ingin jauh merugi, pada tahun 1907, Belkamu akhirnya mendatangkan spesies bibit kopi lain, yakni kopi Robusta (coffea canephora)

Jenis kopi Robusta dikenal memiliki daya tahan yang sangat tinggi terhadap berbagai jenis penyakit tanaman dan mudah untuk dibudidayakan. Selain itu, kopi jenis Robusta juga cenderung memiliki produktivitas yang tinggi dibandingkan dengan jenis kopi Arabika. Sejak saat itulah kopi jenis Robusta berkembang lebih cepat dan menggantikan posisi jenis kopi Arabika, terutama pada kebun-kebun yang berada di bawah ketinggian 1000 mdpl. Jenis kopi ini pun terus berkembang dan lama kelamaan menyebar ke seluruh pulau Jawa, Sumatera, dan Kepulauan Indonesia bagian Timur lainnya.

Usai kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, seluruh perkebunan kopi milik Belkamu akhirnya dinasionalisasikan oleh Indonesia dan membuat Belkamu tak lagi menjadi pemasok kopi dunia. Salah satu perusahaan kopi yang ada di Indonesia adalah PT. Santos Jaya Abadi dengan produknya Kapal Api. Pada awalnya, perusahaan ini merupakan industri rumahan dan belum memiliki badan usaha resmi di bawahnya.

Namun, kini pabrik dari PT. Santos Jaya Abadi tersebar di dua daerah, yakni Sidoarjo dan Karawang. Kualitas kopi yang dihasilkan oleh perusahaan ini pun sudah teruji, apalagi proses pengelolaannya menggunakan mesin-mesin standar internasional. Produk Kapal Api milik PT. Santos Jaya Abadi juga menjadi pelopor kopi yang menggunakan merek dagang dan logo, serta kualitasnya yang tidak berubah sepanjang tahun sehingga aroma dan rasanya jelas lebih enak.